Jumat, 06 Januari 2012

PERDARAHAN POST PARTUM POST PARTUM HEMORRHAGIC (PPH)




PERDARAHAN POST PARTUM
POST PARTUM HEMORRHAGIC (PPH)








Disusun oleh :
Jusmala Sari
20110104259











PROGRAM STUDI DIV KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2012


PERDARAHAN POST PARTUM
POST PARTUM HEMORRHAGIC (PPH)

  1. Definisi
Perdarahan post partum adalah perdarahan pervaginam yang melebihi 500 ml (Saifuddin, 2002). Terdapat beberapa maqsalah mengenai definisi ini:
1.      Perkiraan kehilangan darah biasanya tidak sebanyak yang sebenarnya, kadang-kadang hanya setengah dari sebenarnya. Darah tersebut bercampur dengan cairan amnion atau dengan urine. Darah juga tesebar pada spons, handuk dan kain, di dalam ember dan di lantai.
2.      Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar hemoglobin normal akan dapat menyesuaikan diri terhadap kehilangan darah yang akan berakibat fatal pada yang anemia.
3.      Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu beberapa jam dan kondisi ini dapat tidak dikenali sampai terjadi syok.
Penilaian risiko pada saat antenatal tidak dapat memeperkirakan akan terjadinya perdarahan postpartum. Penanganan aktif kala tiga sebaiknya dilakukan pada semua wanita yang bersalin  karena hal ini dapat menurunkan insidens perdarahan postpartum akibat atonia uteri. Semua ibu harus dipantau dengan ketat untuk mendiagnosis perdarahan postpartum.

  1. Jenis-jenis Perdarahan Postpartum
Jenis-jenis perdarahan postpartum:
1.      Perdarahan postpartum primer adalah perdarahan setelah bayi lahir  dan  dalam 24 jam pertama persalinan.
2.      Perdarahan pascapersalinan sekunder adalah perdarahan setelah 24 jam pertama persalinan.
(Prawirohardjo, 2005)


  1. Penanganan Umum
Pencegahan:
Cara  yang terbaik untuk mencegah terjadinya perdarahan postpartum adalah memimpin kala II dan kala III persalinan sesuai prosedur dan tidah teburu-buru.
Penanganan:
Penanganan umum pada perdarahan postpartum
a)      Ketahui dengan pasti kondisi pasien sejak awal (saat masuk)
b)      Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan aman (termasuk upaya pencegahan perdarahan pascapersalinan)
c)      Lakukan observasi melekat pada 2 jam pertama pascapersalinan (di ruang persalinan) dan lanjutkan pemantauan terjadwal hingga 4 jam berikutnya (di ruang rawat gabung).
d)     Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat
e)      Segera lakukan penilaian klinik dan upaya pertolongan apabila dihadapkan dengan masalah dan komplikasi
f)       Atasi syok
g)      Pastikan kontraksi berlangsung baik (keluarkan bekuan darah, lakukan pijatan uterus, berikan uterotonika 10 IU IM dilanjutkan infus 20 IU dalam 500cc NS/RL dengan 40 tetesan permenit.
h)      Pastikan plasenta telah lahir dan lengkap, eksplorasi kemungkinan robekan jalan lahir.
i)        Bila perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah.
j)        Pasang kateter tetap dan lakukan pemantauan input-output cairan
k)      Cari penyebab perdarahan dan lakukan penangan spesifik.

  1. Sebab-sebab Perdarahan Post Partum
1.      Perdarahan Poswtpartum Primer
Sebab-sebab terjadinya postpartum primer adalah sebagai berikut:
a)      Atonia Uteri
Pada kehamilan cukup bulan aliran darah ke uterus sebanyak 500-800 cc/menit. Jika uterus tidak berkontraksi dengan segera setelah kelahiran placenta, maka ibu dapat mengalami perdarahan sekitar 350-500 cc/menit dari bekas melekatnya placenta. Bila uterus berkontraksi maka miometrium akan menjepit anyaman pembuluh darah yang berjalan diantara serabut otot tadi. Atonia uteri adalah suatu kondisi dimana miometrium tidak dapat berkontraksi dan bila terjadi maka darah yang keluar dari bekas tempat melekatnya placenta menjadi tak terkendali.
Seorang ibu dapat meninggal karena perdarahan pascapersalinan dalam waktu kurang dari satu jam. Atonia uteri menjadi penyebab lebih dari 90 % perdarahan pascapersalinan yang terjadi dalam 24 jam setelah kelahiran bayi (Ripley, 1999). Sebagian besar kematian akibat perdarahan pascapersalinan terjadi pada beberapa jam pertama setelah kelahiran bayi (li, et al., 1996). Karena alasan ini, penatalaksanaan persalinan kala tiga merupakan cara terbaik dan sangat penting untuk mengurangi kematian ibu.
Beberapa faktor predisposisi yang terkait dengan perdarahan pascapersalinan yang isebabkan oleh atonia uteri adalah:
·         Yang menyebabkan uterus membesar lebih dari normal selama kehamilan, diantaranya: jumlah air ketuban yang berlebihan, kehamilan gemeli, dan janin besar (makrosomia).
·         Kala satu dan/atau dua yan g memanjang.
·         Persalinan cepat (partus presipitatus).
·         Persalinan yang diinduksi atau dipercepat dengan oksitosin (augmentasi).
·         Infeksi intrapartum.
·         Multiparitas tinggi.
·         Magnesium sulfat digunakan untuk mengendalikan kejang pada preekmpsia/eklampsia.
Penatalaksanaan Atonia Uteri
Atonia uetri terjadi jika uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan rangsangan taktil (masase) fundus uteri.

Prosedur Kompresi Bimanual Interna (KBI):
a.       Pakai sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi atau steril, dengan lembut masukan secara obstetrik (menyatukan kelima ujung jari) melelui introitus ke dalam vagina ibu.
b.      Periksa vagina dan servik. Jika ada selaput ketuban atau bekuan darah pada kavum uteri  mungkin hal ini menyebabkan uterus tak berkontraksi secara penuh.
c.       Kepalkan tangan dalam dan tempatkan pada forniks anterior, tekan dinding anterior uterus ke arah depan sehingga uterus di tekan dari arah depan dan belakang.
d.      Tekan kuat uterus diantara ke dua tangan. Kompresi uterus ini memberikan tekanan langsung pada pembuluh darah yang terbuka (bekas implantasi plasenta) di dinding uterus dan juga merangsang miometrium untuk berkontraksi.
e.       Evaluasi keberhasilan :
1)      Jika uterus berkontraksi dan perdarahan berkurang, teruskan melakukan KBI selama 2 menit, kemudian perlahan-lahan keluarkan tangan dan pantau ibu secara melekat selama kala empat
2)      Jika uterus barkontraksi tapi perdaran masih berlangsung, periksa ulang perineum, vagina, dan cerviks apakah terjadi laserasi. Jika demikian, segara lakukan penjahitan untuk manghentikan perdarahan.
3)      Jiak uterus tidak berkontraksi dalam waktu 5 menit, ajarkan keluarga untuk melakukan kompresi bimanua eksternal (KBE) kemudian langkah-langkah penatalaksanaan atonia uteri selanjutnya. Minta keluaga untuk menyiapkan rujukan.
Kompresi Bimanual Eksternal ( KBE) :
a.       Letakan satu tangan pada dinding abdomen dan dinding depan korpus uteri dan di atas simpisis pubis
b.      Letakan tangan lain pada dinding abdomen dan dinding belakang korpus uteri sejajar dengan dinding depan korpus uteri. Usakan untuk mencakup/memegang bagian belakang uterus seluas mungkin.
c.       Lakuakan kompresi uterus dengan cara saling mendekatkan tangan depan dan belakang agar pembuuh darah di dalam anyaman miometrium dapat dijepit secara manual. Cara ini dapat menjepit pembuluh darah uterus dan membatu uterus untuk berkontraksi.
b)      Robekan Jalan Lahir
Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dari perdarahan pascapersalinan. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri.
Gejala dan tanda:
1.      Perdarahan segera
2.      Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir.
3.      Uterus kontraksi baik.
4.      Pasenta lengkap.
5.      Pucat, lemah dan menggigil.
Penatalaksanaan:
1.      Periksalah dengan seksama dan perbaiki robekan pada serviks atau vagina dan perineum.
2.      Lakukan uji pembekuan darah sederhana jika perdarahan terus berlangsung.
c)      Retensio Placenta
Tanda dan gejala:
1.      Plasenta belum lahir setelah 30 menit.
2.      Perdarahan segera
3.      Uterus berkontraksi baik.
Penanganan:
Jika plasenta belum lahir dalam waktu 15 menit, berikan 10 unit oksitosin IM dosis kedua. Perikasa kandung kemih. Jika ternyata penuh, gunakan tekhnik aseptic untuk memasukkan kateter nelaton desinfeksi tingkat tinggi at6au steril untuk mengosongkan kandung kemih. Ulangi kembali melakukan penegangan tali pusat dan tekanan doso cranial. Lakukan rujukan apabila setelah 30 menit plasenta belum lepas. Tetapi apabila fasiliotas kesehatan rujukan sulit dijangkau dan kemudian timbul perdarahan maka sebaiknya lakukan tindakan plasenta manual.
Plasenta manual
Prosedur melakukan plasenta manual:
1.      Persiapan:
a.       Pasang set dan cairan infuse.
b.                                                                                                                                                            Jelaskan pada ibu prosedur dan tujuan tindakan.
c.                                                                                                                                                             Lakukan anestesi verbal atau anaestesi perrectal.
d.                                                                                                                                                            Siapkan dan jalankan prosedur pencegahan ionfeksi.
2.      Tindakan penetrasi ke dalam cavum uteri:
a.       Pastikan kandung kemih dalam keadaan kosong.
b.      Jepit tali pusat dengan klem pada jarak 5-10 cm dari vulva, tegangkan dengan satu tangan sejajar lantai.
c.       Secara obstetric, masukkan tangan lainnya (pngguna tangan menghadap ke bawah) ke dalam vagina dengan menelusuri sisi bawah tali pusat.
d.      Setelah mencapai bukaan serviks, minta seorang asisten/penoilong lain untuk memegangkan klem tali pusat kemudian pindahkan tangan luar untuk menahan fundus uteri.
e.       Sambil menahan fundus uteri, masukkan tangan dalam hingga ke kavum uteri sehingga mencapai tempat imnplantasi plasenta.
f.       Bentangkan tangan obstetric menjadi datar seperti memberi salam (ibu jari merapat ke jari telunjuk dan jari-kjari lain saling merapat).
3.      Melepas plasenta dari dinding Uterus.
g.      Tentukan inplantasi plasenta, temukan tepi plasenta palinag bawah.
h.      Setelah ujung-ujung jari masuk diantara plasenta dan dinding uterus maka perluas pelepasan plasenta dengan jalan menggeser tangan ke kanan dan kri sambil digeserkan ke atasa (cranial Ibu) hingga semua perlekatan plasenta terlepas dari diding uterus.
4.      Mengeluarkan Plasenta
i.        Sementara satu tangan masih di dalam kavum uteri, lakukan eksplorasi untuk menilai tidak ada sisa plasenta yang tertinggal.
j.        Pindahkan tangan luar dari fundus ke suprta simfisis (tahan segmen bawah uterus) kemudian instruksikan asisten/penoiolong untuk menarik tali pusat sambil tanmgan dalam memvawa plasenta keluar. (hindari terjadinya percikan darah).
k.      Lakukan penekanan (dengan tangan yang menahan suprasinfisis) uterus kea rah dorso cranial setelah plasdenta dilahirkan dan tempatkan plasenta di dalam wadah yang telah disediakan.
5.      Pencegahan Infeksi Pascatindakan
l.        Dekontaminasi sarung tangan (sebelum dilepaskan) dan peralatan lain yang digunakan.
m.    Lepaskan dan rendam sarung tangan dan peralatan lainnya di dalam larutan klorin 0,5 % selama 10 menit.
n.      Cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir.
o.      Keringkan tangan dengan handuk bersih dan kering.
6.      Pemantauan Pascatindakan
p.      Periksa kembali tanda vital ibu.
q.      Catat kondisi ibu dan buat laporan tindakan.
r.        Tulliskan rencana pengobatan, tindakan yang masih diperluikan dan asuhan lanjutan.
s.       Beritahukan kepada ibu dan keluarganya bahwa bahwa tindakan telah selesai tetapi ibu masih memerlukan pemantauan dan asuhan lanjutan.
t.        Lanjutkan pemantauan ibu hingga 2 jam pascatindakan
b
 
a
 
c
 
d)     Tertinggalnya Sebagian Placenta
Tanda dean gejala:
1)      Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap.
2)      Perdarahan segera.
3)      Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus uteri tidak berkurang.


Penanganan Khusus:
1)      Raba bagian dalam uterus untuk mencari sisa plasenta. Eksplorasi manual uterus menggunakan tekhnik yang serupa dengan yang digunakan untuk mengeluarkan plasenta yang tidak keluar.
2)      Keluarkan sisa plasenta dengan tangan, cunam ovum, atau kuret besar.
3)      Jika perdarahan berlanjut, lakukan uji pembekuan darah dengan menggunakan uji pembekuan darah sederhana.
e)      Inversio Uteri
Uterus dikatakan mengalami inversi jika bagian dalam menjadi bagian di luar saat melahirkan plasenta.
Tanda dan gejala:
1)      Uterus tidak teraba.
2)      Lumen vagina terisi masa.
3)      Tampak tali pusat (jika plasenta belum lahir) .
4)      Perdarahan segera.
5)      Nyeri sedikit atau berat.


Penanganan Khusus:
Reposisi sebaiknya dilakukan segera. Dengan berjalannya waktu, lingkaran konstriksi uterus yang terinversi akan mengecil dan uterus akan terisi darah.
1)      Jika ibu sangat kesakitan, berikan petidin 1 mg/kg BB (tetapi jangan lebih dari 1000 mg) IM atau Ivsecara perlahan. Jangan berikan oksitosin sampai in versi telah direposisi.
2)      Jika perdarahan berlanjut, lakukan uji pembekuan darah dengan menggunakan uji pembekuan darah sederhana.

2.      Perdarahan Pascapersalinan Sekuner
Peradrahan pascapersalinan yang lama atau tertunda mungkin tanda terjadinya metritis .
Tanda dan gejala:
a.       sub-involusi uterus
b.      Nyeri tekan perut bawah.
c.       Perdarahan lebih 24 jam setelah persalinan perdarahan bervariasi (ringan atau berat, terus menerus atau tidak teratur) dan berbau (jika disertai infeksi).
Penanganan Khusus:
a.       Berikan oksitosin
b.      Jika swerviks masih berdilatasi, lakukan eksplorasi dengan tangan untuk mengeluarkan bekuan-bekuan besar dan sisa plasenta. Eksplorasi manual uterus menggunakan tekhnik yang serupa dengan yang digunakan untuk mengeluarkan plasenta yang tidak keluar.
c.       Jikas saerviks tidak berdilatasi, evakuasi unmtuk mengeluarkan sisa plasenta.
d.      Pada kasus lebih jarang, jika perdarahan terus berlanjut, pikirkan kemungkinan meklakukan ligasi arteri uterina dan utero ovarika atau histerektomi.
e.       Lakukan pemeriksaan histologi dari jaringan hasil kuret atau histerektomi, jika memungkinkan, untuk menyinkirkan penyakit trofoblas ganas.





























DAFTAR PUSTAKA


Abid. http://drabid.blogspot.com/2009/01/perdarahan-post-partum.html. tentang perdarahan post partum. Diakses 15 November 2009.

Israr, Yayan A. http://yayanakhyar.wordpress.com.tentang perdarahan post Jartum (post Jartum haemorargik). Diakses 29 September 2009.

Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Wiknjosastro, Gulardi. 2008. Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: JNPK-KR.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar